Rabu, 05 Agustus 2020

Autobiografi Cheng Wei, Seorang Pengusaha di Bidang Transportasi Online di China

*Dikutip dari maxmanroe.com*

...

Berkat kesuksesannya mendirikan perusahaan transportasi berbasis online Didi Chuxing, Cheng Wei yang saat ini berusia 33 tahun dianugrahkan titel sebagai CEO termuda yang mampu mengembangkan perusahaan bernilai miliaran dolar di China. Namun ternyata ketika pertama kali mengembangkan bisnis di usia 29 tahun, tepatnya di tahun 2012, nyatanya Wei harus menjalani proses yang luar biasa berat.

Dalam sebuah kesempatan ia menyatakan salah satu rahasia suksesnya adalah selalu belajar sembari bekerja. Konsep ini benar-benar ia terapkan ketika masih bekerja di perusahaan digital besar, Alibaba. Ia yang sudah bekerja selama 7 tahun di perusahaan tersebut, menangani beberapa lini seperti sales dan juga pengembangan alternatif pembayaran Alipay.

Ketika menangani beberapa proyek tersebutlah, ia terus belajar bagaimana mengembangkan perusahaan secara mandiri. Ia banyak mengerti bagaimana perusahaan dikembangkan mulai dari titik nol serta bagaimana untuk bisa menarik perhatian konsumen.

Yang unik ternyata, ketika Wei memulai mendirikan Didi di pertengahan tahun 2012, pada waktu yang sama pula Uber mulai dikembangkan di Amerika. Sebagai salah satu pesaing besar yang nantinya akan bertarung dalam beberapa tahun ke depan, pada kenyataannya Didi Chuxing dinilai mempunyai perkembangan yang lebih masif dan cepat ketimbang sang pesaing tersebut.

Tentu banyak yang bertanya bagaimana Wei bisa mengembangkan perusahaan tersebut menjadi perusahaan transportasi berbasis online terbesar di China hanya dalam waktu 4 tahun. Kembali lagi, Wei membocorkan rahasia suksesnya yang lain. Ketika dalam proses pengembangan #startup, dengan cerdas ia melihat peluang lewat akuisisi perusahaan pesaing. Dia percaya, dengan menghubungkan para pesaing yang berada dalam bidang yang sama justru akan memberikan keuntungan ganda. Selain bisa menghilangkan persaingan, kita juga bisa memperoleh potensi pengembangan bisnis yang jauh lebih besar.

Kala itu ia melakukan proses merger dengan perusahaan pesaing, Kuaidi Dache. Lewat kesepakatan bernilai 6 juta dolar tersebut, akhirnya dominasi Didi Chuxing untuk bidang transportasi online di negara China sudah tak terbendung lagi. Belum lagi dengan dukungan dari perusahaan raksasa lain, Baidu and Alibaba sebagai “bonus” dari proses merger, menjadi tambahan amunisi untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan asing.

Selain itu, rahasia sukses terakhir dari seorang Cheng Wei adalah selalu fokus dalam satu bidang saja. Hal tersebut diwujudkan dengan fokus perusahaan yang hanya menggarap pasar Cina. Ini tentu berbeda dengan perusahaan Uber yang mempunyai cabang di berbagai negara, Didi Chuxing terbukti jauh lebih dipercaya oleh masyarakat Cina sendiri.

Saat ini Didi Chuxing menguasai pasar transportasi taxi sebesar 99%, serta pasar transportasi mobil pribadi sebesar 87% di Cinta. Selain itu, perusahaan dengan maskot buah jeruk ini, juga telah mempunyai cabang di 400 kota di seluruh China, berbanding jauh dengan Uber yang hanya “narik” di 45 kota.

Yang terbaru dengan pencapaian luar biasa ini, perusahaan teknologi #Apple merasa tertarik untuk menanamkan investasi. Tak kurang dari satu miliar dollar dikucurkan oleh Apple untuk mendukung bisnis milik Cheng Wei tersebut. Kucuran investasi ini, lantas membuat nilai perusahaan Didi Chuxing melonjak tajam, hingga mencapai angka 20 miliar dolar. Dan yang perlu digarisbawahi, Wei berhasil mencapai posisi tersebut hanya dalam waktu 4 tahun saja!

Autobiografi Abdul Gani, Seorang Pengusaha di Bidang Transportasi di Sumbawa Barat

*Dikutip dari republika.co.id*

Siapa sangka, Abdul Gani (50) lelaki sederhana yang berhasil dan sukses menjadi pengusaha transportasi di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat adalah seorang lulusan Sekolah Dasar (SD). Perkenalan dirinya dengan perusahaan tambang Multinasional, PT Newmont Nusa Tenggara memberikan jalan baginya untuk berbisnis di dunia transportasi hingga akhirnya mampu menjadi pengusaha sukses.

Kisahnya bermula sekitar 1994, saat warga Sengkokang ini pertama kali menjadi petugas eksplorasi untuk perusahaan. Dimana, ia bersama dengan tim ahli PT NTT melakukan survei lokasi-lokasi eksplorasi yang sulit diakses dengan kondisi jalan yang buruk. Berbulan-bulan ia melakukan pekerjaan itu dengan kondisi wilayah yang terisolir.

Selang beberapa tahun, tepat 2007 seusai dirinya bekerja sebagai petugas eksplorasi, Gani diberikan kesempatan oleh pihak perusahaan untuk menyuplai tenaga kerja serta mengelola transportasi bis di wilayah perusahaan PT Newmont. Berbekal modal 300 juta yang dikumpulkannya bersama sembilan temannya, ia memulai bisnis jasa transportasi.

“Setelah kami diberikan kesempatan pada 2007, saya suplai tenaga kerja dan transportasi seperti bis dan mobil ke PT Newmont,” ujarnya kepada sejumlah wartawan yang mengerumuninya di rumah mewah miliknya, pekan lalu.

Ia menuturkan, usaha transportasi yang digelutinya dengan mengusung label PT Gita Usaha Madani (GUM). Kepercayaan yang diberikan pihak pemberi kredit pada saat memulai bisnis semakin memudahkan usahanya.

Menurutnya, saat ini, jumlah bis baru yang dimiliki saat ini mencapai 22 dan 11 kendaraan kecil dari berbagai merk. Dimana, satu unit bis bernilai sebesar Rp 730 juta. Namun, tiga rekannya yang sudah memiliki perusahaan sendiri mundur dalam bisnis sehingga saat ini hanya terdapat enam perusahaan.

Gani mengatakan, jasa transportasi yang dikerjakannya di lokasi tambang mampu meraup penghasilan sebesar Rp 30 juta/bulan. Dimana, PT Newmont membayar ke perusahaannya perbulan. Sementara itu, total pekerja yang bernaung di perusahaannya mencapai 400 orang dengan rata-rata gaji perbulan sekitar Rp 3-4 juta.

Ia mengaku keberadaan perusahaan tambang di Sumbawa Barat memberikan dampak yang baik, dari sisi ekonomi dan infrastruktur untuk desa dan masyarakat. Sebab, sebelum adanya Newmont, kondisi infrastruktur di Kecamatan Sengkokang sangat buruk, apalagi fasilitas publik seperti puskesmas dan sekolah yang jauh.

“Dulu, orang sakit di sini bisa mati di jalan saat akan dibawa ke puskesmas. Sebab, puskesmas yang dituju hampir 40 KM. Selain itu, saat itu jalan yang ditempuh masih berupa jalan setapak. Begitu pun saat membawa orang sakit masih menggunakan kuda,” katanya.

Ia pun menunjukan rumah panggung yang berada tepat di belakang halaman rumah mewahnya. rumah itu sengaja ditempatkan olehnya di belakang sebagai pengingat bahwa dirinya pernah mengalami masa-masa ekonomi sulit.

Autobiografi Cheng Wei, Seorang Pengusaha di Bidang Transportasi Online di China

*Dikutip dari maxmanroe.com* ... Berkat kesuksesannya mendirikan perusahaan transportasi berbasis online Didi Chuxing, Cheng Wei yang saat i...